Powered By Blogger

Kamis, 31 Maret 2011

Maafkan aku pa....

Pa….,
Beribu rindu membuncah dari hati ini,
Rindu ingin memeluk tubuhmu yang tak lagi setegar masa mudamu,
Kulit yang menghitam, tubuh yang kurus, menjadi saksi betapa tangguhnya dirimu dalam mengarungi kerasnya kehidupan dalam menghidupi keluarga, dan menjadi bukti betapa besar pengorbananmu dalam mendidik dan menyekolahkan kami, anak-anakmu,

Tahukah kau, pa…,
Rindu ini menghadirkan mimpi dalam tidurku,
Tentu kerinduan yang amat sangat aku rasakan hingga mengimpikan dirimu,
Mengenang semua pengalaman indah bersamamu, sekalipun kebersamaan kita tidak pernah lama karena 9 tahunan aku pergi menuntut ilmu, membuatku teringat memoriku bersamamu; aku salut dan minta maaf kepadamu pa…,

Pa…, aku selalu teringat masa-masa ketika aku pernah membuat hatimu terluka…,
Aku ingat ketika menyerviskan sepeda, yang itu tanpa izinmu, dan biayanya lumayan besar pada saat itu, aku melihat mendung di raut wajahmu…, kau menahan agar butiran matamu tidak tumpah di hadapanku, aku bisa merasakan kegundahanmu ketika itu pa…,; dan untuk menghibur hati, kau cium adik yang ada dipelukanmu, dan tak menjawab sepatah kata tetapi kau hanya menjawab dalam hati, “Iya, nanti nak.” Dan aku selalu ingat itu pa…, ingat selalu, ah maafkan aku pa…maafkan.

Pa…, ingatkah kau ketika kuberlibur ke rumah, dan aku ikut membantu bapak pergi ke kandang bebek ketika itu. Ingatkah kau pa ketika kita mengaduk-aduk makanan untuk bebek yang dicampur dengan ikan…, ketika itu, aku melihat dan menyaksikan butiran keringatmu berjatuhan setitik-setitik karena panasnya terik matahari siang itu, aku bisa merasakan pa…, lelah-letihmu dalam mencari ma’isyah untuk keluarga…, dan aku berharap, kelak engkau akan memetik hasilnya; terampuninya dosa dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.

Teruntuk papa yang kutahu dia mungkin tidak –dan tidak akan pernah- membaca catatan ini, tetapi aku menitipkan salam rinduku kepadanya dengan berdoa kepada Allah, “Ya Allah, aku menitipkan salam rinduku untuk bapa, dan sampaikan kepadanya bahwa aku cinta sama bapa…”, dan kubalas sms dek zain yang meminta doaku agar sukses lalu kujawab dengan dua sms, yang kedua berbunyi, “dan titip salam buat bapak, dan katakan “Aku cinta bapak dan doaku selalu menyertainya.” Lalu tanpa tersadari ada beningan mata yang membasahi pipiku…”

Rabbanaghfirlanâ wa li walidaynâ warhamhumâ kamâ rabbayanâ shighârâ, duhai Rabb, ya Allah ya Rahman, ya Hayyun ya Qayyum, ampunilah kami dan kedua orangtua kami, dan rahmatilah keduanya sebagaimana mereka mendidik kami sewaktu kami kecil. Ampuni, dan rahmatilah mereka ya Allah, ya Dzal Jalâli wa l-Ikrâm, al ladzî lâ ilâha illâ anta al Ahad al Shamad lam yalid wa lam yûlad. Amin” ***Selasa, 29 Maret 2011 pukul 07.36 WIB***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar