Powered By Blogger

Sabtu, 28 Juni 2014

Jagalah Amalan Kita Supaya Tidak Batal

Seorang Mukmin beribadah kepada Allâh Ta'âla dengan penuh cinta, harap disertai rasa cemas. Cinta kepada Allâh Ta'âla karena banyak sekali nikmat yang telah Dia limpahkan kepada hamba-Nya; Beribadah dengan penuh harap meraih rahmat dan ampunan-Nya; sedangkan cemas maksudnya khawatir terkena siksa-Nya dan juga khawatir kalau amal yang dilakukannya gugur disebabkan perusak-perusak amal. Karena amalan itu bisa gugur dengan berbagai sebab sebagaimana diterangkan oleh Allâh dan Rasul-Nya.
Allâh Ta'âla berfirman :
QS. Muhammad/47:33
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allâh dan taatilah Rasul
dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.
(QS. Muhammad/47:33)
Tentang ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullâh mengatakan :
“Kemudian Allâh Ta'âla memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya, karena ketaatan itu merupakan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Allâh Ta'âla juga melarang mereka dari murtad yang akan bisa membatalkan seluruh amalan. Oleh karena itu Allâh Ta'âla berfirman, “janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”, maksudnya dengan kemurtadan”. [Tafsîr Ibnu Katsir, surat Muhammad, ayat ke-33]
Berdasarkan nash-nash dari al-Qur’ân dan as-Sunnah, dapat diketahui bahwa perusak amal itu ada dua macam:
  • Perusak sebagian amal
  • Perusak amal secara total
Sebagai seorang Mukmin, adalah menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk memahami segala macam perusak amal itu, kemudian menjauhinya, agar kita selamat dan bisa meraih kebaikan yang kita inginkan dengan amal shalih kita. Pada kesempatan kali ini akan dijelaskan jenis perusak yang kedua yaitu yang bisa menggugurkan amal secara total, mengingat dampaknya dan keburukannya yang luar biasa.
1. Kemusyrikan
Syirik (kesyirikan), maksudnya adalah menjadikan sekutu atau tandingan bagi Allâh  Ta'âla  dalam rububiyah (perbuatan-Nya), uluhiyah (hak-Nya untuk ditaati secara mutlak dengan penuh kecintaan dan pengagungan), dan asma’ dan sifat (nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna).
Umumnya, kesyirikan itu terjadi dalam uluhiyah. Misalnya, berdoa kepada Allâh  Ta'âla  tapi juga berdoa kepada selain-Nya, atau mempersembahkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allâh Ta'âla, seperti: penyembelihan binatang, nadzar, rasa takut, berharap, dan kecintaan. (Kitab Muqarrar Tauhid lish Shaffits Tsâlits al-‘Ali fil Ma’âhid al-Islâmiyah, 3/10)
Syirik merupakan dosa dan kezhaliman terbesar yang tak termaafkan, jika pelakunya mati dalam keadaan musyrik. Oleh karena itu tidak mengherankan jika syirkul akbar (kemusyrikan yang besar) digolongkan kedalam sesuatu yang bisa menggugurkan semua amal kebaikan seseorang secara total.
Allâh Ta'âla berfirman :
QS. al-An’âm/6:88
Seandainya mereka (para Nabi) mempersekutukan Allâh,
niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.
(QS. al-An’âm/6:88)
Ketika menjelaskan ayat ini, syaikh Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di rahimahullâh berkata, “Sesungguhnya syirik itu bisa melenyapkan amalan dan bisa menyebabkan kekal dalam neraka. Maka jika seandainya hamba-hamba pilihan tersebut (yakni para Nabi) berbuat syirik niscaya lenyaplah amalan-amalan mereka (tetapi mereka tidak mungkin melakukannya), apalagi selain mereka.” (Taisîr Karîmir Rahmân fi Tafsîr Kalâmil Mannân, surat al-An’âm, ayat ke-88)
Allâh Ta'âla juga berfirman:
QS. az-Zumar/39:65
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (para nabi) sebelummu,
"Jika kamu mempersekutukan (Allâh), niscaya akan terhapus amalmu
dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi."
(QS. az-Zumar/39:65)
Syaikh Abdurrahman bin Nâshir as-Sa’di rahimahullâh berkata di dalam tafsirnya tentang ayat ini, “Jadi dalam kenabian seluruh Nabi, syirik itu bisa melenyapkan seluruh amalan, sebagaimana Allâh Ta'âla telah firmankan dalam surat al- An’âm.” (Taisîr Karîmir Rahmân Fi Tafsîr Kalâmil Mannân)
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullâh berkata, “Sebagai diketahui berdasarkan dalil-dalil syar’i dari al-Qur'an dan as-Sunnah bahwa seluruh amalan dan perkataan hanya akan sah dan diterima jika muncul dari aqidah shahîhah (yang benar). Jika aqidah tidak shahîhah, maka seluruh amalan dan perkataan yang muncul darinya pun batal.” (Aqîdatus Shahîhah Wa Nawâqidhul Islam, hlm. 3)

2. Kekafiran
Kekafiran adalah lawan dari keimanan. Dalam keimanan harus ada keyakinan dan ketundukan terhadap firman Allâh Ta'âla dan sabda Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam. Jika dua hal itu tidak terpenuhi, maka keimanannya dianggap tidak ada. Oleh karena itu kekafiran memiliki bermacam-macam bentuk.
Syaikhul Islam rahimahullâh berkata, “Mereka (kaum Muslimin) telah sepakat bahwa orang yang tidak beriman setelah tegak hujjah kepada mereka, maka dia kafir, baik karena dia mendustakan, meragukan, berpaling, sombong, ragu-ragu, atau lain sebagainya”. (Majmû’ Fatâwâ, 20/87)
Demikian juga secara hukum, para Ulama membagi kekafiran menjadi dua: kufur akbar dan kufur ash-ghar. Kufur akbar adalah kekafiran yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam, sehingga pelakunya akan kekal dalam neraka. Kufur inilah yang menggugurkan seluruh amal. Sedangkan kufur ash-ghar adalah kekafiran yang tidak menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam, sehingga seandainya pelakunya masuk neraka, dia tidak kekal di dalamnya. Meski demikian, pelakunya tetap mendapatkan ancaman siksa yang besar.
Dalam banyak ayat, Allâh Ta'âla memberitahukan bahwa amalan-amalan orang kafir itu sia-sia betapapun banyaknya. Diantaranya, dalam firman Allâh Ta'âla :
QS. al-A’râf/7:147
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami
dan mendustakan perjumpaan dengan akhirat,
maka seluruh perbuatan mereka terhapus.
Mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. al-A’râf/7:147)
Juga firman-Nya :
QS. Muhammad/47: 8-9
Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka
dan Allâh menyesatkan amal-amal mereka.
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci
kepada apa yang diturunkan Allâh (al-Qur'an)
lalu Allâh Ta'âla menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.
(QS. Muhammad/47: 8-9)
Oleh karena itu Allâh Ta'âla menggambarkan amal-amal orang kafir itu seperti debu yang diterbangkan oleh angin, tidak ada manfaatnya sama sekali, atau seperti fatamorgana yang tidak ada hakekatnya. Allâh Ta'âla berfirman :
QS. Ibrâhîm/14:18
Orang-orang yang kafir kepada Rabbnya,
amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras
pada suatu hari yang berangin kencang.
Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun
dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia).
Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.
(QS. Ibrâhîm/14:18)
Juga firman-Nya :
QS. an-Nûr/24: 39
Dan orang-orang kafir,
amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar,
yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,
tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.
Dan didapatinya (ketetapan) Allâh disisinya,
lalu Allâh memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup
dan Allâh adalah sangat cepat perhitungan-Nya.
(QS. an-Nûr/24: 39)
Ini merupakan kerugian yang sangat fatal, bahkan orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang paling rugi! Ketika di dunia, mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amal kebaikan mereka, namun karena amal-amal mereka tidak dilandasi iman, maka mereka tidak mendapatkan balasan sedikitpun di akhirat.

3. Kemunafikan
Nifak adalah perbuatan menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Jika yang ditampakkan adalah keimanan, dan yang disembunyikan adalah kekufuran, maka ini adalah nifak akbar, pelakunya disebut dengan munafik. Walaupun di dunia dihukumi sebagai orang-orang Muslim, karena zhahir demikian, namun di akhirat orang-orang munafik akan berada dalam neraka yang paling bawah.
Amalan orang munafik itu sia-sia, karena Allâh Ta'âla telah menggugurkannya. Allâh Ta'âla berfirman :
QS. al-Ahzâb/33:18-19
Sesungguhnya Allâh mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu
dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya,
“Bergabunglah bersama kami !”
Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.
Mereka bakhil kepadamu, apabila datang ketakutan (bahaya),
kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik
seperti orang yang pingsan karena akan mati.
Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam,
sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan.
Mereka itu tidak beriman, maka Allâh menghapuskan (pahala) amalnya.
Dan yang demikian itu mudah bagi Allâh.
(QS. al-Ahzâb/33:18-19)
Allâh Ta'âla juga berfirman mengenai orang-orang munafik :
QS. al-Mâidah/5:53
Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan,
"Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allâh,
bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?"
Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.
(QS. al-Mâidah/5:53)

4. Kemurtadan
Murtad maksudnya kembali kepada kekufuran setelah sebelumnya beragama Islam. Allâh Ta'âla memberitahukan usaha kaum musyrikin Quraisy untuk memurtadkan kaum Muslimin, dan ancaman terhadap kaum Muslimin yang murtad :
QS. al- Baqarah/2:217
Mereka (musyrikin Quraisy) tidak henti-hentinya memerangi kamu (kaum Muslimin)
sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekufuran),
seandainya mereka sanggup.
Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran,
maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat,
dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
(QS. al- Baqarah/2:217)
Setelah kita mengetahui bahwa amalan seseorang bisa batal dengan perkara-perkara yang merusakkan amalan, maka sepantasnya kita selalu berusaha menjaga dan melindungi amalan kita sebaik-baiknya, jangan sampai menjadi rusak dan sia-sia. Karena sesungguhnya iman yang shahih (benar) dan amal yang shalih (baik), keduanya ini yang menjadi kunci kebahagian hamba di dunia dan akhirat. Semoga Allâh Ta'âla selalu membimbing kita di atas jalan yang Dia cintai dan menjaga kita dari segala keburukan, Amin.
 
(Majalah As-Sunnah Edisi Khusus (04-05)/Tahun XV)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar