Lima Tips Mendidik Anak Shalih
Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang
berjalan-jalan di tepi sungai. Saat berjalan-jalan, terlihatlah olehnya
seorang anak sedang mengambil wudhu sambil menangis. Lalu ia beratanya,
“Wahai anak kecil, kenapa kamu menangis?”
Anak itu menjawab, “Wahai kakek, saya telah membaca ayat Al-Quran sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi,
“Yâ ayyuhal-ladzîna âmanû qû anfusakum,” yang artinya, “Wahai
orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu.” Saya
menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”
Berkata orang tua itu, “Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya
kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka.”
Anak itu menjawab, “Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal,
tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api, maka yang pertama akan
mereka letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian
baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan
dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”
Berkata orang tua itu, sambil menangis, “Sesungguh anak ini lebih takut
kepada neraka daripada orang yang dewasa, maka bagaimanakah keadaan kami
nanti?”
***
Bayangkan bila saja yang
diceritakan dalam potongan kisah tersebut adalah anak kita. Anak yang
kita lahirkan dan besarkan dengan keringat dan jerih payah. Tentu betapa
beruntung dan berbahagianya kita sebagai orang tua. Betapa pun banyak
keringat yang telah tercucur, tenaga yang telah terkuras, pikiran dan
waktu yang telah tersita, semua takkan ada apa-apanya dibandingkan
dengan hasil yang kita peroleh, yaitu anak yang shaleh.
Memiliki anak shaleh merupakan dambaan setiap keluarga. Di samping
sebagai penerus keturunan, kelak anak shaleh juga akan menjadi investasi
di masa yang akan datang. Do’a-do’a anak shaleh adalah pahala yang akan
terus mengalir tanpa henti. Ia akan menembus langit dan akhirnya sampai
kepada kita sebagai orang tua sebelum ataupun sesudah kita mati.
Berkeinginan memiliki anak yang shaleh bukanlah khayalan. Siapa pun
orangnya sama memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Kehadiran anak
shaleh dalam sebuah keluarga bukanlah mu’jizat atau turun dari langit
dengan sendirinya. Ia akan hadir di tengah-tengah kita tiada lain
merupakan buah dari usaha yang kita lakukan dalam mendidiknya. Bila kita
berkeinginan dan berusaha keras mendidik anak agar menjadi anak yang
shaleh, maka ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi
jika tidak, keinginan untuk memiliki anak shaleh hanyalah sebuah
angan-angan dan hayalan semata.
Syaikh Abu Hamid
Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan
mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua
orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih
dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong
kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan
kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang
tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi
jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak,
niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh
penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina
serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat,
tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka
kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut
bila dewasa.”
Berikut adalah beberapa metode dalam
mendidik anak, agar anak diharapkan dapat memiliki sikap dan perilaku
yang baik serta sesuai dengan keinginan orang tua dengan berlandaskan
norma dan agama.
1.Keteladanan
Keluarga,
khususnya orang tua adalah figur awal bagi seorang anak untuk diikuti
dan dicontoh perilakunya. Ketika anak mulai beranjak remaja, fungsi ini
mulai bergeser kepada kelompok sebaya-nya ataupun figur-figur lain di
luar keluarga, seperti tokoh-tokoh dalam film atau cerita. Oleh karena
itu, sudah seharusnya orang tua dapat memberikan pondasi awal yang kuat
tentang sikap dan perilaku yang positif. Dengan demikian kelak ketika
anak dihadapkan kepada situasi yang sangat kompleks, anak akan lebih
siap dan konsisten terhadap pendiriannya.
Agar tujuan ini
terwujud, maka tentunya harus ada keteladanan dari orang tua. Ingatlah
suatu perbuatan orang tua tidak akan efektif bila hanya terjadi
komunikasi satu arah. Berilah contoh yang kepada anak mengenai perilaku
yang baik dari orang tua mereka sehari-hari. Ini bisa dimulai dengan
hal-hal yang biasa sehari-hari kita lakukan di rumah. Dengan begitu,
kedepan diharapkan anak akan dapat mulai sedikit demi sedikit mencontoh
perilaku yang positif dari orang tuanya.
2.Pembiasaan
Setelah adanya contoh yang baik dari orang tua, maka perlu dilakukan
pembiasaan dari perilaku-perilaku yang telah dilakukan tadi. Hal ini
penting karena dihawatirkan bila orang tua saat tak ada disisi mereka,
perilaku-perilaku yang anak lakukan akan dapat berubah kembali. Dengan
adanya pembiasaan, maka perilaku positif tersebut akan menjadi tabiat
positif anak sehingga ada atau tidak ada orang tua, hal-hal positif
tetap mereka lakukan.
3.Nasihat
Selanjutnya
adalah nasihat. Dikala proses diatas berlangsung, orang tua juga harus
senantiasa memberikan pengertian-pengertian ataupun pemahaman-pemahaman
kepada anak mengapa suatu perilaku itu harus dilakukan, apa manfaatnya,
baik untuk diri sendiri dan yang terpenting untuk orang lain.
4.Kontrol
Setelah langkah-langkah di atas berjalan dengan baik, maka selanjutnya
adalah kontrol dari orang tua. Dalam pelaksanaannya, kontrol yang
dilakukan mesti dijalankan secara arif dan bijaksana, tidak dengan
membuat posisi anak menjadi tersudut, sehingga kontrol justru tidak
menjadi efektif.
5. Reward and Punishment
Yang terakhir adalah memberikan hadiah dan hukuman. Di samping poin-poin
di atas, tips kelima ini juga tak kalah pentingnya untuk menumbuhkan
minat dan tanggung jawab pada anak. Namun dari pada itu, sebelumnya
harus dingat oleh para orang tua bahwa pemberian hukuman kepada anak
dimaksudkan untuk mendidik anak bukan untuk menyudutkan apalagi melukai
fisik.
Hukuman yang diberikan tidak hanya semata-mata berbentuk
fisik, tetapi juga bisa dilakukan hal-hal lain seperti dengan
pengurangan hak, atau pemberian suatu tugas tambahan. Andaikata hukuman
fisik terpaksa diberikan, maka harus diperhatikan bahwa cubitan kecil
ataupun pukulan ringan bisa bisa diberikan dengan syarat: tidak boleh di
bagian-bagian vital anak, tidak boleh pada bagian atas tubuh (perut,
dada, leher, kepala, punggung) dan tidak boleh meninggalkan bekas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar